Apr
29
2014
0

Lost Part 3 in Grojogan Sewu

Minggu, 27 April 2014
“Sebuah Drama yang Berawal dari Air Mata dan Berakhir dengan Tawa Membahana”
Ya, begitulah sebuah kalimat yang pas untuk mendiskripsikan perjalanan kali ini. Kesalahpahaman terpaksa memecah pertahanan terakhir seorang cewek bernama Imaf, yaitu air mata. Sejak awal, memang rencana jalan-jalan ini selalu ada halangan, dan bila ada yang bilang kesabaran itu ada batasnya, maka saat ada yang bilang ingin mengundur jalan-jalan ini lagi, tash! Putus sudah tali sabar itu. Sehingga untuk mengikat emosi diri sendiripun sulit.
Padahal sebenarnya, yang dipermasalahkan hanya karena salah paham dan jaringan, yang membuat SMS kami sulit masuk dan tumbuh pikiran-pikiran buruk itu. Maka tak heran bila sampai ada adegan menangis di kamar mandi dan ketok-ketok pintu kamar mandi seperti orang bodoh.
Layaknya drama di film-film itu, kita meneruskannya di keesokan hari. Dengan pakaian siap tempur ke Grojogan Sewu, namun dengan hati yang ciut. Takut bila pertemanan ini terpaksa runtuh hanya karena adegan di awal drama tadi.
Akhirnya perjalananpun dimulai dengan menitipkan sepeda motor dan menunggui bus datang. Seiring dengan bus yang memasuki kawasan dingin di Tawang Mangu, hati kita ber-4 pun ikutan mendingin. Karena itu kita mulai berbicara dan bercanda seperti yang lalu, akhirnya, setelah salaman, cium pipi kanan-kiri, sungkem, potong tumpeng dan segala macam, kita berbaikan.

Bus kami berhenti di stasiun dan kami harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki (memang ada angkot, namun mengingat kita harus irit, maka kita memilih jalan kaki). Dan sialnya, kami justru lewat pintu belakang, yang membuat kaki ini berjalan ±1 km dengan medan meliuk naik-turun.

DSC_0600

Tiket itulah yang membawa kami ke pintu masuk Grojogan Sewu. Begitu melewati palang pintu masuk, didepan mata segera tergambar sesuatu yang membuat kami menelan ludah. Yaitu, anak tangga dari batu berlumut, yang melingkar naik, ada 1.250 anak tangga yang harus kami lewati. Bagaikan ada naga melilit gunung ini. Namun, kami tidak merasa lelah (kecuali Didin), karena alam memberikan penawar berupa apiknya pemandangan. Pohon menjulang tinggi-tinggi, seakan berebut mencari sang matahari. Suara serangga menjadi backsound drama yang dipentaskan alam ini, sedangkan udaranya sejuk, melebihi sejuknya AC di ruang kelas.

Dari kejauhanpun suara gemuruh air terjun sudah terdengar, suaranya seperti ada sesuatu yang besar—gajah misalnya—yang sedang terguling-guling, jatuh terperosok ke jurang <–ini alay, serius.

Akhirnya kami tahu Grojogan Sewu itu apa, bentuknya bagaimana. Grojogan Sewu itu air terjun dengan ketinggian 81 meter. Air-air yang terjun itu menghantam bebatuan besar-kecil yang ada di bawahnya, lalu mengalir menjadi sungai. Kira-kira beginilah gambarannya :

CIMG7304

Jujur ya, ini pertama kalinya aku dekat dengan air terjun dengan ketinggian 81 meter. Bulir-bulir air kecil menerpa wajahku, bahkan dari jarak 10 meter saja tas dan lengan bajuku basah, air yang mengalir di telapak kaki begitu deras dan dingin, ditambah bebatuan tempatku berpijak itu berlumut menjadikanku mudah tergelincir. Kami ber-4 harus saling berpegangan bila tidak ingin jatuh dengan kepala terbentur cadas bebatuan.
Aku merentangkan tangan, menikmati bagaimana derasnya angin menerpa wajahku, sedangkan angin mendorong-dorong kencang, kacamataku sudah penuh bintik-bintik air, tapi aku masih merentangkan tangan, seolah ingin memeluk air terjun itu, aku takjub, Allah yang perkasa menciptakan air terjun itu, memberikan kesempatan ke aku, manusia yang selalu minta ampun tapi selalu mengulang dosa yang sama untuk melihatnya. Didepan air terjun itu, aku mengakui bahwa aku kecil saja. Bahwa aku hanyalah seorang hamba.

Haha. Aku akui aku norak, tapi begitulah kenyataannya. Bahwa aku memang norak:D

CIMG7319CIMG7313CIMG7311

Selain dapat menikmati wahana air terjun, pengunjung dapat berenang, karena ada kolam renang yang sumpah, airnya bikin menggigil dan kulit serasa dipijat keras-keras. Lalu, ada flying fox yang sayang, kemarin tidak ada petugasnya.
Dan ada tali-tali yang saling mengait sehingga membentuk layaknya jembatan. Sebenarnya, meski digantung di atas sungai, jembatan tali ini sama sekali tidak mengerikan, tapi anehnya Didin yang alay berteriak-teriak ketakutan ketika Imaf menggoyang-goyangkan jembatan tali, sedangkan aku yang dibelakangnya berteriak agar Didin cepat melangkah. Didin tidak dapat mengendalikan dirinya, dia gemetar ketika sampai tengah jembatan. Dan adegan ini justru mengundang anak kecil yang dibawah, ikutan menggoyang-goyangkan jembatan.

Meski begitu, Didin tetap narsis ketika ada di depan kamera 😀

CIMG7326

Dan inilah fotoku yang ada penampakannya 😀

CIMG7327

Cuaca yang dingin disini mengundang hujan yang sering datang, dan begitu pula untuk sore ini. Hujan mulai datang ketika kami sedang berenang (dengan gaya batu). Hujan semakin menderas saat kami selesai ganti baju, membuat kami mematung menunggu hujan. Yang kami takutkan bila hujan ini tak kunjung reda dan pada akhirnya kami ketinggalan bus karena sekarang sudah jam 4 sore.
Setelah kehujanan, naik tangga lagi untuk mencapai pintu keluar, mencari angkot dan akhirnya dapat bus terakhir, kami lega masih ada bus terakhir di terminal. Bau tidak enak di dalam bus lebih mending daripada kami harus ketinggalan bus. Hujan yang menderas mengikuti bus kami, hingga hari berubah gelap. Aku mulai memikirkan motorku, karena aku yakin tukang parkir saat magrib begini pasti sudah pulang. Iin pun juga. Kami mengkhawatirkan hal yang sama.
Sedangkan Didin disampingku sudah tidak berdaya, menahan komplikasi sakit yang menerjangnya, mulai telinga kemasukan air, gigi sakit dan badan lemas mau pingsan. Akhirnya, foto inilah yang mengakhiri kisah kita pada Lost in hari ini :)
CIMG7354
Meski awalnya rumit seperti itu, yang ada adegan menangis di kamar mandi—lebih alay dari sinetron—tapi ketika bus mendaratkan kami kembali ke Solo, kami merasa sangat lega. Motorku dan Iin aman, Didin sudah mendingan. Dan yang terpenting, hubungan pertemanan diantara kita tetap baik-baik saja.
Ya, inilah drama panjang untuk Lost in Grojogan Sewu. Berawal dari airmata, berakhir dengan tawa membahana, disudut hati kami masing-masing, yang ada plang “spesial” disana.
Sekian, selamat belajar presentasi untuk besok pagi, Kawan:)
Bus PP : 16.000
Angkot : 5.000
Tiket Masuk : 8.000
Flying Fox : 11.000
Kolam Renang Anak : 5.000
Pelampung : 2.000
Sewa Payung : 5.000
Written by in: Uncategorized | Tags:
Apr
26
2014
0

Bedah Buku “Pandora”

Pembicara : Akhmad Ramdhon, Komunitas Jejer Wadhon

DSC_0596

Kiri-Kanan : Akhmad Ramdhon, Siti Harsun (dari Jejer Wadhon) , Dita Rahayu Margatino (moderator)

Sebagai wujud peringatan Hari Kartini kemarin, Himasos (Himpunan Mahasiswa Sosiologi) mengadakan bedah buku berjudul Pandora yang mana didalamnya berisi kisah tentang para wanita yang haknya terampas.

Ada cerita tentang seorang wanita TKI yang justru akan dijadikan pekerja seks dan bagaimana ia bertaruh pada 30 menit yang dimilikinya. Juga, ada cerita yang menuturkan tentang wanita yang tertular HIV/AIDS dari suaminya, laki-laki yang dinikahinya karena sang laki-laki mengancam bunuh diri takut patah hati. Buku Pandora juga mengisahkan tentang wanita yang ingin memperjuangkan hak-hak sekaumnya namun mendapat perlawanan langsung dari guru, orangtua bahkan suaminya sendiri.

Kisah-kisah nyata yang seharusnya tidak terjadi ini tertata apik dalam buku berjudul Pandora, yang mereka tulis tidak agar pembaca merasa iba, namun justru pembaca dapat merasakan semangat yang bergelora lewat huruf-huruf yang mereka rangkai menjadi lambang ketidak setaraan gender.

Sejujurnya, meski puluhan tahun negara ini telah merdeka, namun belum sepenuhnya negara menjadi pelindung bagi rakyatnya (dalam konteks ini wanita), bahkan negara justru menjadi penyumbang siksa bagi kaum wanita, ini dibuktikan pada UU pernikahan yang membolehkan wanita menikah pada umur 16 tahun (padahal menurut ilmu kedokteran, bila wanita itu hamil, maka organnya belum siap, sedangkan psikisnya pun belum matang, maka rumah tangga yang dihasilkan kualitasnya tidak seperti yang diharapkan).

Bila kita menilik surat-surat Kartini yang telah dibukukan dengan judul juga “Kartini”, kita akan temukan permasalahan yang sama. Tidak dulu tidak sekarang wanita sama-sama berada di posisi lebih rendah dari laki-laki.

Namun permasalahan disini adalah ada sebagian orang yang menilai bila kata “setara” dalam kesetaraan gender itu justru menyatakan ingin keluar dari kodratnya. Padahal yang dimaksud setara itu bukan berarti dipukul rata yang berarti wanita harus bekerja sama dengan laki-laki namun setara yang dimaksud itu adalah menempatkan hak dan kewajiban sesuai gendernya.

Ketidaksetaraan gender ini terjadi karena budaya masyarakat di Indonesia yang menganut sistem patriakad (laki-laki lebih dominan memimpin), maka kewajiban wanita yang dapur, kasur, sumur (memasak, seks, mencuci) itu seolah menjadi kodrat mutlak seorang wanita dan parahnya ia masih harus mengurus anak-anaknya. Nah, bayangkan bila hal tersebut hanya dilakukan seorang wanita sendirian yang katanya mahkluk lemah, apalagi bila anaknya berjumlah 6 orang dengan rentang umur yang dekat. Dan bayangan yang ada di kepala ini dapat berpindah ke mata bila kita berkunjung ke daerah NTT, yang artinya memang begitulah kenyataannya.

Untuk itulah buku Pandora ini hadir, menuturkan tentang kehidupan wanita bak kotak Pandora yaitu kotak yang tidak dapat ditebak apa isinya, bagaimana ujungnya dan seperti apakah jalannya. Hal-hal yang sudah dikisahkan dalam buku belumlah menjadi keseluruhan isi kotak, karena jaman terus bergulir, menyisakan tantangan yang harus dipikul seorang wanita.

Akhirnya, menulislah jalan yang ditempuh para wanita hebat ini. Bila kekuatan fisik wanita dianggap lemah dan bila ia berbicara dianggap hampa saja, maka dengan menulis ia terlihat kuat, dan seakan memberitakan pada dunia dan anak cucunya, tentang nasib yang seharusnya tidak terjadi lagi di masa berikutnya.

Written by in: Uncategorized | Tags:
Apr
20
2014
0

Peran dan Analogi Perasaan

Peran adalah tingkah laku seseorang yang diharapkan masyarakat atas status yang dimilikinya. Jika dianalogikan dalam cinta maka menjadi seperti ini “Kalau cinta diperlihatkan lewat perbuatan, nah kalau status diperlihatkan oleh peran”. Peran seperti bukti nyata atas status yang disandang individu tersebut.

Seperti halnya cinta yang memiliki pernak-pernik untuk menunjukkan perasaannya dengan bunga, coklat, perhatian, BBMan, dll. Peran juga memiliki pernak-pernik untuk membantu menjalankan perannya. Pernak-pernik itu kerap disebut simbol yang meliputi baju, mobil, gelar, lingkungan atau tempat yang mendukung, dll.

Contohnya seperti seseorang yang berstatus sebagai pengemis maka perannya adalah menengadahkan tangan meminta-minta dengan wajah memelas. Pernak-pernik atau simbol ditunjukkan lewat pakaian lusuh yang dikenakannya dan kadang membawa anak kecil atau jika tidak menonjolkan bagian tubuh yang cacat.

Contoh lain adalah seseorang yang menyandang status pelayan atau kasir di Alfamart, maka perannya ia harus tersenyum kepada pelanggan yang membuka pintu, harus ramah meski pembeli tidak membalas senyumnya dan ketika pelanggan akan membayar, ia menawari sederet promo. Perannya sebagai kasir atau pelayan itu didukung oleh pakaian seragamnya dan lingkungan sekitarnya (terdapat banyak barang yang dijual yang menandakan ada di toko).

Pernak-pernik tersebut untuk meyakinkan dan memenuhi harapan orang lain agar percaya atas peran yang dimainkan. Sama seperti pernak-pernik dalam cinta yang digunakan untuk meyakinkan dan menaruh harapan pasangannya agar percaya atas cinta yang diungkapkan.

Namun individu tidak hanya memiliki satu peran, terkadang individu itu memiliki banyak peran yang disandangnya. Seperti seseorang yang bekerja menjadi penjagal sapi di tempat kerja akan berlaku kasar dan kejam terhadap sapi, namun ketika ia pulang ke rumah, sifatnya menjadi penuh perhatian dan kasih sayang karena ia menjadi seorang ayah. Lain lagi ketika ia memimpin rapat di balai desa karena ia menjadi ketua RT, ia menjadi tegas sekaligus ramah atas segala masukan dari warganya.

Terkadang banyak peran yang disandang individu sehingga menimbulkan konflik peran (role conflict). Sama halnya dengan cinta, bila seseorang mempunyai kekasih lebih dari satu maka menimbulkan konflik.

Misalnya seperti seorang hakim yang harus mengadili sahabatnya sendiri, ketika ia mengetukkan palu bersalah, sebenarnya ia mengalami konflik dalam dirinya. Antara menegakkan keadilan atau berlaku sebagai teman yang solid.

Untuk menghindari konflik tersebut individu dapat mengkotak-kotakkan kehidupan yang terpisah sehingga hanya dapat memainkan satu peran pada satu waktu. Setiap individu seperti memiliki banyak lemari yang disetiap lemari berisi apa yang harus dipakai ketika memerankan status tertentu. Dan ia dapat membuka lemari lainnya dan mengganti apa yang dikenakannya ketika berada di tempat dan waktu berbeda yang mengharuskan ia mengganti perannya.

Erving Goffman menyatakan bahwa bila kita berperan apabila oranglain juga berperan. Seorang kasir atau pelayan Alfamart tidak akan mengambil perannya bila tidak ada pembeli, guru tidak akan berperan mengajar ketika tidak ada muridnya, tukang tambal ban tidak akan berperan menambal ban ketika tidak ada orang yang datang membawa motor dengan ban bocor.

Sedangkan konsep Generalized Other milik Herbert Mead menyatakan bahwa saat kita menyandang status tertentu dan melakukan peran, maka kita harus mengetahui peran oranglain juga. Misalnya dalam permainan baseball, meski kita menjadi pemukul bola namun kita juga harus tahu peran teman se-tim agar saat si A berlari dari pos menuju tempat pemukul, maka kita sebagai pemukul setelah memukul bola harus berlari gantian menuju pos.

Ketika seseorang menyandang status tertentu dan memainkan perannya, kebanyakan ia sudah mempelajari peran yang dimainkan sekarang sejak masa kecil dahulu. Seperti Sinchan dalam serial kartun Crayon Sinchan yang sering bermain rumah-rumahan. Dalam permainan ini ada yang berperan sebagai ayah, ibu, anak dan tetangga. Maka, secara tidak langsung permainan ini menyosialisasikan individu untuk menghadapi kehidupan selanjutnya.

Karena apa yang dipelajari, dialami, didapat seseorang dari kecil hingga sekarang berbeda-beda antara satu dengan lainnya, maka individu yang menyandang status sama kadang menjalankan perannya dengan berbeda.

Saya ambil contoh dosen. Ada dosen yang mengisi kelas dengan jam yang tepat seperti yang ada di jadwal, namun ada juga dosen yang cukup masuk 20 menit untuk memberikan kuliah.

Maka, peran yang awalnya terlihat seperti “me” atau diri yang terbentuk atas kehendak dan kemauan masyarakat yang sesuai dengan pendekatan organis dapat berubah menjadi “I” atau diri yang kreatif atau berbeda dari masyarakat kebanyakan disebut juga dengan pendekatan individualis karena pengalaman berbeda yang dimiliki tiap individu itu.

Daftar Pustaka :

Horton, B Paul & Chester L Hunt. 1999. Sosiologi Jilid 1. Jakarta : Erlangga

K.J Veeger. 1990. Realitas Sosial. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Apr
20
2014
0

semoga kelak sosok itu bertambah satu

tumblr_n2k5cmT3Z41rcntv6o1_r1_500

semoga kelak sosok itu bertambah satu. selain ada kamu. ada aku. di situ.

Written by in: Uncategorized |
Apr
20
2014
0

Mencari Jati Diri

Orang bilang masa SMA adalah masa-masanya mencari jati diri. Kalau benar begitu, maka pencarianku gagal, karena sampai kuliahpun aku bingung siapa sebenarnya diriku, mau menjadi seperti apa aku.

Saat SMA aku mulai mengerti relita, semakin aku sadar akan kenyataan, justru sering membuatku berucap tidak mungkin pada banyak hal, termasuk pada mimpi-mimpiku. Saat SMA aku banyak mengenal orang, konsep dramaturji yang menyatakan  manusia bak berada di panggung sandiwara sering aku temui. Antara front stage dengan back stage berbeda, apa yang di tampilkan dengan pribadi aslinya tak sama.

Apa benar aku ingin menjadi penulis? Apa iya bakatku menulis?

Hal-hal yang dulu aku yakini perlahan justru memudar. Aku tidak tahu, apakah ini aku yang salah, atau semua orang mengalami fase-fase sepertiku juga, bingung berkenalan dengan diri sendiri. Sebenarnya yang membuatku bingung adalah akan menjadi seperti apakah aku ini? Dimasa mendatang, sosok aku ini akan berubah menjadi seperti apa? Profesi, pekerjaan dan finansial mulai menjadi pertanyaan yang sulit sekali dijawab. Karena tidak hanya bergantung pada keputusanku, tetapi menyangkut lebih banyak orang-orang yang penting untukku.

Aku rasa, inilah saatnya aku mengucapkan “Selamat datang pada dunia orang dewasa”

Written by in: Uncategorized | Tags:
Apr
20
2014
0

Sopir Taksi

Kemarin aku bercakap-cakap dengan sopir taksi. Sebenarnya saat itu aku malas membuka percakapan karena badan sudah lelah dan kepalaku seakan dipenuhi music rock, berdentum-dentum mau pecah.

Pak Taksi : Maaf ya mbak, tadi harus nungguin saya makan

Aku : Nggak papa kok pak, malah bisa mengamati jalanan Jogja, tidak siang tidak malam tetap ramai, Pak

Pak Taksi : Iya mbak, apalagi musim liburan

(Aku diam. mengamati jalanan, bersamaan dengan udara AC yang dinginnya merembes ke kulit, pikiranku terbang. Ingatan tentang masa lalu bersamanya terputar kembali, seakan aku bisa melihat tawaku bersama dia sambil berlari-larian di jalan ini. aku menghembuskan nafas, andaikan dia disini, pasti dia orang pertama yang aku temui karena aku yakin dia dapat dengan mudahnya menghapus segala capek dan penatku ini)

Pak Taksi : Saya ini nggak pernah meninggalkan makan meski sudah ditunggui penumpang

Aku : oh! Hehe iya Pak (sebenarnya bingung mau menyahut apa, karena tidak begitu mendengar)

Pak Taksi : Saya ini kan kerja jadi sopir taksi untuk apa to? Untuk cari makan, Mbak. Orang hasil akhirnya nasi, masak begitu saya mendapat penumpang langsung saya tinggal nasinya.

Aku : Iya Pak, bener Pak

Pak Taksi : Padahal saya makannya juga hanya diwarung biasa, di angkringan, tapi tetap saya dahulukan makan, Mbak

Aku : Eh, nasi kucing kan pak? Justru enak itu Pak (tanggapan yang kurang nyambung-_-)

Pak Taksi : Nah, iya. Enak, kan Mbak. Iya jadi meski teman-teman saya ketika dapat penumpang langsung iya iya dan lari meninggalkan makannya, saya tetap melanjutkan makan mbak. Buat apa mengejar-ngejar sesuatu yang sudah di dapat, kalau prinsip saya nikmati saja apa yang ada didepan. Toh, apa yang ada dihadapan hasil keringat dari hari-hari kemarin.

Aku mengucapkan beberapa patah kata, lalu aku terdiam. Bukan karena aku malas bercakap-cakap karena aku sedang mencerna apa yang Bapak Taksi ini katakan. Ya! Beliau benar, kadang aku sebagai manusia mencari sesuatu yang sebenarnya sudah didapat, tapi entah karena ingin harta lebih, malah meninggalkan apa yang sudah dipunya. Lebih baik nikmati apa yang ada di depan, meski tidak enak sekalipun, karena sesuatu yang didepan ini hasil kerja hari kemarin-kemarin dan yakin, pasti bakal berguna juga bagi masa depan.

Sopir taksi yang hebat:)

Written by in: Uncategorized | Tags:
Apr
14
2014
0

Masalah

tumblr_maols32Owk1qmzhmeo1_500

Besar-kecil itu tergantung dari mana melihatnya.

Termasuk soal masalah yang mendera.

Written by in: Uncategorized | Tags:
Apr
14
2014
0

Penjual Buku

tumblr_n3ufuu7J9Y1sm717eo1_500

Abu Ali, the old Bookseller on Mutanabbi Street died today on April 10th, 2014.

Written by in: Uncategorized | Tags:
Apr
14
2014
0

berbeda

nada yang berbeda menghasilkan lagu.
huruf berbeda menjelma jadi kata, kalimat, paragraf lalu bisa menjadi buku

warna yang berbedapun menghasilkan pelangi.

berbeda.
tapi kenapa ketika kamu bilang “kita sudah berbeda”, kita malah tidak menjadi apa-apa? langkah panjang kita kemarin malah terbuang sia-sia?

Written by in: Uncategorized | Tags:
Apr
14
2014
0

Powered by WordPress | Theme: FreeUsenext